Part 2: Pembodohan bangsa melalui sinetron Indonesia

Setelah membaca komentar teman-teman untuk posting saya sebelumnya, tadinya saya mau ngomentarin satu-satu komentar teman-teman. Tapi sepertinya saya cukup menggunakan satu kata : pilihan. Sebenernya ga masalah ada banyak tayangan GA bermutu di Indonesia, ASAL banyak juga tayangan yang berMUTU.

Seandainya Indonesia negara maju dan pendapatan perkapita masyarakatnya lumayan tinggi untuk bisa menyewa tivi kabel, maka permasalahan pembodohan ini ga perlu menjadi masalah. Saya rasa masyarakat kita sudah cukup cerdas untuk memilih tayangan yang bermutu. Biarlah yang tidak bermutu menjadi sekedar pilihan saja.

Anda merasa ga sih, sebenarnya hak kita untuk mendapat informasiĀ  sangat terbatas. Contohnya dulu saja, koran/majalah yang vokal menyuarakan kepentingan rakyat lama-lama hanya tinggal nama saja. Dan sekarang, sejauh yang saya ingat, di negara ini hanya ada 11 stasiun televisi nasional, yaitu TVRI, RCTI, SCTV, Indosiar, ANTV, Trans TV, TPI, Lativi, GlobalTV, Trans7, dan MetroTV. (Kalo kurang mohon maaf, saya juga manusia =)) Selain itu ada channel tv daerah, tergantung daerah masing-masing.

Dengan hanya 11 channel tersebut variasi program yang ditawarkan teramat sangat sedikit. Penduduk kita lebih dari 220juta, dengan kebutuhan informasi yang amat sangat beragam. Namun 220juta tadi terpaksa hanya memiliki sedikit pilihan. Belum lagi sistem pertelevisian di negeri kita tercinta ini menggunakan rating, sehingga bila satu program sukses, maka sangat besar kemungkinan dibuat program serupa yang lebih banyak lagi. Maka bermunculanlah sinetron-sinetron berjudul Intan, Wulan, Azizah, Indah, dll. Belum lagi infotainment, dalam sehari penonton dapat menyaksikan berita yang sama pada setiap program infotaintment yang ditayangkan di channel yang berbeda.

Melihat kondisi ini, mindset kita juga jadi terkotak-kotak mengikuti trend yang sedang berlaku. Coba, siapa yang berperan besar menyebarkan opini bahwa putih itu cantik?? Siapa pula yang menyebarkan mimpi Cinderella (gadis miskin bertemu dengan pangeran kaya raya) , sehingga pria tampan, kaya raya menjadi impian banyak wanita? Saya yakin Anda tahu jawabannya.

Saya tidak dapat menyalahkan orang-orang di balik layar, kenapa mereka hanya mampu membuat program begini atau begitu, karena manusia itu sendiri sangat bervariasi. Tentu tingkat kecerdasan dan akhlak juga sangat berpengaruh. Keidealisan dapat luntur oleh kerasnya kehidupan, tapi saya yakin sebenarnya semua orang tau mana yang baik dan yang buruk. Seandainya keinginan untuk memberi manfaat kepada sesama sangat besar, bukan tidak mungkin tayangan sinetron2 kita juga akan dapat memperbaiki kehidupan kita, bukan hanya menjual mimpi. Contohnya ada kok, sekarang ada PPT, kalo dulu ada Si Doel, Keluarga Cemara.

Saya tidak bilang saya anti sinetron. Menurut saya, ada beberapa sinetron yang sebenarnya layak tonton, tapi ya itu tadi, jumlahnya jauh kalah banyak dibanding dengan sinetron-sinetron penjual mimpi. Kita harus stop mengatakan “masyarakat Indonesia banyak yang miskin, jadi perlu diberi sedikit mimpi”!

Sayangnya untuk menjadi idealis terkadang perlu modal yang besar agar tetap bertahan di bumi Indonesia ini. Banyak sineas bertalenta yang tidak mampu mengekspresikan idenya karna keterbatasan biaya. Saya berharap suatu saat lingkaran setan ini mampu diputuskan.

Kalau memang mau bermimpi, maka saya -orang Indonesia yang bisanya ngomong aja ini- bermimpi, suatu saat nanti banyak orang yang berpendidikan dan mengamalkan ilmunya, banyak orang yang idealis dan mampu mewujudkan mimpinya, dan semua itu akan diwujudkan oleh kita, generasi muda yang suatu saat akan merubah negara ini. Semoga!

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    paris said,

    penjual mimpi…

    hehehe…sering denger kata ini klo ngomongin film sama pak jos [adi]…

  2. 2

    Dewi said,

    Iya, mimpi aja dijual… Kayak jamu aja, lho??hehe

  3. 3

    sigit barracuda said,

    kayaknya ‘mimpi’ lagi jadi barang laris di indonesia.

    tp ingat: apj abdul kalam (mantan perdana menteri india ) selalu bilang begini: “bermimpilah! karena mimpi akan menuntun kepada pikiran dan pikiran akan menuntun pada tindakan”

    jadi bermimpilah dengan baik dan benar. hehe,,


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: