Pembodohan bangsa melalui sinetron Indonesia

Saya benar-benar tak bisa tidak untuk menertawakan apa yang saya baca di tabloid Nova edisi 13-19 Agustus 2007. Disana ada satu bagian khusus yang membahas Sinetron Candy yang sekarang sedang ditayangkan oleh stasiun televisi RCTI. Disana dibahas ide awal, para pemain dan kisah di balik layar.

Berdasarkan apa yang saya baca, dikatakan sinetron Candy memang terinspirasi dari komik Candy-Candy yang ngetop di tahun 90an. Tapi, menurut Indrayanto, desainer produksi sinetron Candy, “Dalam CC, cerita Candy mengalir sampai ia besar, sedangkan disini tidak. Soal nama tokoh yang banyak sama, itu kebetulan saja“.
Itu! Itu yang bikin saya tertawa. Kebetulan saja??? Kebetulan dari mana??! Oke nama pemeran utamanya Candy, tapi tokoh lainnya, Teri (aslinya Terry), Anthony, Steven (Stea), dan yang maksa Aldi (Archie) serta Rani (Annie). Udah jelas niru, pake ga ngaku! Sebel!

Sungguh sangat disayangkan, ternyata sifat malas dan ga mau rugi telah menjadi penyakit yang berkarat di negeri kita tercinta ini. Dari pejabat kita yang korupsi, jalan-jalan ke luar negeri, dan terus meminta fasilitas dari uang negara, sampai anak-anak sekolah terjangkit virus ini. Sampai sekarang banyak siswa (dan mahasiswa) yang masih saja suka mencontek. Mungkin untuk memperbaiki negara ini harus dimusnahkan satu generasi tertua lebih dahulu, baru dibangun peradaban baru dengan orang-orang yang telah melalui hasil seleksi.

Untuk memperbaiki negara ini ,media informasi seperti media cetak dan media elektronik, harusnya yang berperan paling besar, karena dapat diakses secara nasional. Sayangnya, kesadaran untuk membuat suatu media yang idealis, memiliki prinsip, seringkali mendapat banyak kendala. Seperti, dari manusianya itu sendiri, dan tentu saja modal. Untuk dapat diterima masyarakat pun bukan hal yang mudah.

Televisi sebagai media yang banyak diakses pun semakin menyebarkan kebodohan. Saya perhatikan, dari pagi hingga malam, acara inti dari sebuah stasiun televisi (kecuali MetroTV tentunya) hanya ada 3. Pertama, berita. Kedua, infotainment, dan ketiga adalah sinetron. Acara-acara lain cuma pelengkap. Bangsa ini diajarkan untuk selalu mau tahu urusan orang lain. Anak-anaknya diajarkan hedonis. Sekolah pakai mobil, punya hape, gaul. Belum dewasa sudah pacaran, patah hati, dll.

Cerita-cerita yang disajikan di tv itu telah memberikan mimpi yang muluk bagi generasi muda bangsa kita, padahal yang ditayangkan adalah gaya hidup anak-anak kota besar seperti Jakarta. Kasihan sekali anak-anak daerah harus terkontaminasi oleh tayangan yang tidak bermutu tersebut. Saya dibesarkan di 6 kota yang berbeda. Saya menamatkan SD di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan, namanya Baturaja. Kalau Anda pernah membaca Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Anda juga bisa membayangkan semangat teman-teman sekolah saya dulu. Kami sering belajar bersama, bahkan untuk pelajaran IPA guru kami menyediakan kotak KIT. Saya lupa kepanjangannya, tapi saat itu kami sudah mengenal tabung-tabung reaksi, dll. Sekolah kami juga menelurkan siswa yang berhasil ikut Gelantara (Gelar Anak Nusantara) dan lomba Bahasa Indonesia tingkat nasional.

Prestasi semacam inilah yang seharusnya dibanggakan dan difilmkan. Bukan kisah mengenai ibu tiri yang jahat, anak yang dibuang, atau belum lulus sekolah tapi sudah tunangan, dan lain sebagainya. Sepertinya mimpi menjadi orang kaya adalah tontonan yang paling laku, padahal tidak semua orang di negeri ini yang punya rumah seperti istana, mobil mewah, liburan ke luar negeri, dll. Realistis dikitlah!
Benar-benar pembodohan bangsa!

Kembali ke masalah penjiplakan, atau adaptasi, atau terinspirasi, atau apalah namanya, ambil contoh sinetron Candy (Candy-Candy, Jepang), Benci Bilang Cinta(Princess Hours, Korea), dan Siapa Takut Jatuh Cinta (Meteor Garden, Taiwan). Katanya sih cuma terinspirasi, tapi kenapa begitu mirip, baik dari latar belakang cerita hingga penokohan. Dan agar tidak dibilang nyontek 100%, endingnya pasti dibuat berbeda, padahal kesannya sangat dipaksakan.

Saya kasihan pada penulis skenario dan tim kreatif sinetron-sinetron tersebut. Kok bisa-bisanya ga punya harga diri sampai mau mencontek karya orang lain. Kalau memang terinspirasi film Korea, Taiwan atau Jepang, kenapa ga bikin sekalian cerita yang bermutu. Angkat cerita kerajaan-kerajaan di Indonesia, sajikan dengan cerdas dan menarik, jangan niru Princess Hours, buatlah cerita sendiri. Atau kalau mau niru film Taiwan, buatkah kisah cinta yang benar-benar indah dan menyentuh. Jangan diulur-ulur seperti Intan, Wulan, apalagi Tersanjung. Cukup 26 episode (1 session). Dulu Indonesia mampu kok bikin film berkualitas, saya masih ingat sinetron Cinta (Desy Ratnasari, Atalarik Syach, Primus Yustisio), cukup 26 episode, langsung selesai, tapi jalan ceritanya jelas, dan diadaptasi dengan sangat bagus dari sebuah novel.

Kalau film Jepang bagaimana? Ya sama saja, ambil idenya saja, jangan ceritanya keseluruhan. Ciri khas film Jepang adalah mengangkat satu -cukup satu- masalah utama,dan tidak melebar kemana-mana. Contohnya cerita tentang seorang perawat, tentang seseorang yang menderita penyakit kronis, tentang pianis, atau seorang pramugari. Dengan 10 atau 11 episode, penonton akan mendapat pelajaran yang sangat berharga. Kenapa kita tidak membuat cerita tentang seorang penjaga loket bioskop misalnya, dari latar belakang hidupnya, kenapa memilih pekerjaan tersebut, sampai kendala-kendala yang dihadapi.

Sudah seharusnya tayangan televisi mampu menjadi guru, bukan malah membuat bodoh. Jangan seperti TPI, namanya saja Televisi PENDIDIKAN Indonesia, tapi yang dibanggakan malah dangdut!

20 Tanggapan so far »

  1. 1

    nyamukbingung berkata,

    television DOES KILL our nation..!! :(

  2. 2

    krisosa berkata,

    winda said :

    “Untuk memperbaiki negara ini ,media informasi seperti media cetak dan media elektronik, harusnya yang berperan paling besar, karena dapat diakses secara nasional.”

    karena dengan teknologi informasi sebuah negara dapat menjadi negara besar dan maju.

    winda said :

    “Jangan seperti TPI, namanya saja Televisi PENDIDIKAN Indonesia, tapi yang dibanggakan malah dangdut!”

    haiyahh…! emang jagoan dangdut, TPI nomor satu, yang kedua…. indosiar! sinetronnya aja selalu disisipkan lagu dangdut..! merakyat bgt euy! :D

    kesimpulannya, what a nice critical post!

  3. 3

    Shelling Ford berkata,

    you’ll never walk alone. tanya aja sama si john! :mrgreen:

  4. 4

    mee berkata,

    Television : drug of the nation (liat kaosnya fachry)

  5. 5

    amru berkata,

    maaf sebelummnya, saya pribadi kurang setuju kalo televisi disebut sebagai:
    “Television : drug of the nation (liat kaosnya fachry)”
    “television DOES KILL our nation..!!”
    sebenarnya banyak juga sih acara2 n channel2 yang bermutu cuman mungkin porsinya saja yang salah.
    thanks.. :D

  6. 6

    benbego berkata,

    berarti bergantung pada tujuan apa televisi diadakan? klo buat pendidikan setuju banget. tapi klo ada pesan terselubung? sangat banyak..
    Mas Amru bisa ngga setuju, tapi faktanya lebih banyak ruginya. ruginya emang ngga kelihatan krn efek jangka panjang. coba perhatikan perubahan budaya dan adat istiadat daerah kita masing2? darimana mereka mencontoh? hmm

    Sutralah..!

  7. 7

    alle berkata,

    ahh,.. lo kan sinetron bgt! :P

  8. 8

    Rana berkata,

    gak ada ide banget

  9. 9

    arisuke berkata,

    permasalahannya.. kta nggak mudah melakukan filtering. Kekuatan daerah sbg otonomi, harusnya bisa membuat kebijakan,menentukan acara yg sesuai dgn budaya kedaerahan masing2. Jgn budaya2 gedongan di bw ke daerah dgn mentah2
    bangsa ini sudah dipenuhi orang2 rakus yg hanya memikirkan keuntungan, bukan membangun keberadaban

  10. 10

    arisuke berkata,

    woh kelupaan, tp ada satu pilm (sinetron??) yg aku suka bgt.., PPT!! :D
    lainnya… lom tertarik.

  11. 11

    jono berkata,

    boring gt loh

  12. 12

    amaliasolicha berkata,

    assalamualaikum..

    slm kenal mbak :)

    ttg postingannya sepakat bangeet deh.. dah lama mo ngomentarin sinetronnya indonesia ya rada2 bikin kepala pasti geleng2 ngeliatnya… pokoke cinek pinek dineh (Capek deh).. ffiiuuuh….

    untuk film2 yg lg tayang skrg, yg paling mending bangets itu PPT (suka banget), sbenernya ni film isinya berat berat (banyak hikmahnya),,tp pinter banget dikemas dalam kemasan yang ringan n lucu… :), smoga kedepannya di Indonesia ini masih banyak film2 sperti PPT… amiiin

  13. 13

    paris berkata,

    wind said :
    “Saya kasihan pada penulis skenario dan tim kreatif sinetron-sinetron tersebut. Kok bisa-bisanya ga punya harga diri sampai mau mencontek karya orang lain.”

    emang klo sinetron nyontek masih pake team kreatif juga ya..???, emang nyontek bagian dari kreatifitas ???

    wind said :
    “… kenapa ga bikin sekalian cerita yang bermutu. Angkat cerita kerajaan-kerajaan di Indonesia, …”

    biayanya mahal kale mba’…, liat aja legenda, dongeng dsb…, cerita malin kundang kok pake mobil mewah segala, sangkuriang kok dah bawa hp…
    mungkin produser2 indonesia males pada keluar duit kale ya…
    mereka kan maunya keluar duit dikit dapet untung gede [emang ga salah sie, prinsip bisnis emang kyk gt], tp alangkah baiknya jika mereka menyiapkan set yang bener2 bagus, ngga asal2an aja… property pemain aja kadang2 modal dr pemain sendiri [pernah liat kan, pemain sinetron klo maen d sini pake baju A, eh di sinetron laen pake baju itu juga...], takut berinvestasi kale ya…

    klo mba’ wind sendiri suka nonton sinetron ga???
    ntar nulis artikel kyk gn eh tau2 penggemar Candy juga nie…hehhehe

  14. 14

    Dewi berkata,

    Nyamuk>>
    kill the youth of this nation!

    Amru>>
    cuma kurang pilihannya aja Ru…

    Arisuke>>
    Hidup PPT!!

    Amaliasolicha>>
    Wa’alaikumsalam..
    Met kenal juga ya mbak…^_^

    Paris>>
    Adekku tuh Ris, si Naya, kalo lagi film siluman2 pasti marah kalo diganti,haha..

  15. 15

    mail berkata,

    Untungnya aku g punya TV, dulu punya terus temen temen sekos kerjanya cuma nyeleksi para pemain sinetron ( ceweknya aja ), trus klo malem nonton 4 mata ( pingin liat bintang tamu yang seksi doang ). dan Bola ( klo ini g ada ceweknya )..berhubung gw selalu kalah dan g punya waktu nonton dan TV itu adalah punya gw, dengan bijak akhirnya TV itu gw jual (dan karena g punya duit tentunya) :))

  16. 16

    fajar2908 berkata,

    Yang perlu dibenahi adalah pikiran dan hati yang punya stasiun televisi. Agar dalam menayangkan suatu acara yang dipikirkan nggak hanya mesalah berapa duit yang bisa dia dapat. tetapi apa dampak terhadap pemirsa.
    Ada banyak cerita yang aku nggak suka di TV. mungkin ada ratusan. Garis besarnya adalah yang mengisahkan anak kecil (SD atau SMP atau SMA) yang pacaran. Karena apa? karena sebenarnya itu mengajari pemirsanya untuk berpacaran sejak kecil. Dan kita lihat dampaknya sekarang anak SD udah pacaran. Seruanku: BERTOBATLAH WAHAI PRODUSEN FILM

  17. 17

    sigit barracuda berkata,

    ahaa,, masalah sistemik. saya setuju untuk menghabisi generasi sekarang. tpi biaya nya gede bgt. terutama untuk biaya pemakaman. hehe,, harus kaya dulu.

    sinetron indonesia udah kebangeten. sampai setting nya pun sama. saya baca di Kompas edisi hari minggu tgl ‘lupa’. bahwa sampai warna gelas pada suatu scene itu sampai sama. sori lupa apa nama judul sinetron nya.

    udah 3 bulan g ntn tv. g tau perkembangan yg ada. mungkin saking empetnya sama televisi indonesia.

    saya habis selesai ntn serial tv korea “jumong”. wow, dr film ini saya bisa belajar byk. hal dr permslhn cinta sampai politik. keren.

    kapan itu aku ngobrol sm sorg gadis malaysia, katanya sinetron Misteri Gunung Merapi laris manis di negeri jiran. hahaha,,

  18. 18

    lepinter berkata,

    Tambah edan aja ini bangsa

    BUKAN HANYA ITU!!!

    masa anak kecil aja (SD) udah diajarin pacaran
    dikit2 ce-co yg masih muda – pelajar – udah deket2an, pegang2an, masya Allah.
    Ga sadar BUKAN MUHRIM tuh!!!

    Inilah salah satu perang informasi
    melawan apa yang sudah membudidaya dari kita sedari dulu

    Mulai lewat sinetron, layar lebar, hingga pengaplikasiannya di sana-sini.

    SADAR euuyy……GA’ PANTES!!!

  19. 19

    malon berkata,

    bagaimana klu kita bikin perkumpulan untuk memperjuangkan acara tv yang lebih idealis dan realistis dan stop sinetron yang membodohi, btw

  20. 20

    Hinata-chan berkata,

    SETUJU BANGETT!! Dari dulu mah aku benci banget sama sinetron. Aku gak pernah nonton tv lagi. GAK ADA YANG BERMUTU!!! Aku diselamatkan dengan adanya internet. Yang bikin kesel, aku punya teman, sebut aja namanya B. Waktu di sekolah, aku cerita sama si B tentang sinetron2 plagiat. EEHHH… Apa reaksinya??? DIA MEMBELA SINETRON!!!!!!!!!!! Udah kubilangin semua tentang jeleknya sinetron, dia malah bilang “mungkin cuma kebetulan mirip…” HELLOOOOOO????? Kebetulan gak ada yang SERATUS PERSEN!!!!! Sumpret, tu orang emang bego banget. Lagu plagiat masih didengerin, sinetron plagiat masih didengerin, seleranya BURUUUUKKKK BANGEEETTT!!!! Kasian deh… udah diracuni sama bangsa sendiri untuk jadi bego…. ckckckckckck


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: