Yihaaaa, akhirnya Bunda punya KIPEM

September 7, 2009

Dalam rangka mengurusi mutasi motor ke wilayah Sleman, salah satu syaratnya adalah memiliki KTP/KIPEM wilayah tujuan. Berhubung bikin KTP bakal ribet karena perlu KK segala, akhirnya Bun memilih untuk bikin KIPEM aja,,,

nah, Bun mau bagi-bagi pengalaman saat ngurus KIPEM di wilayah Depok, Sleman.

Begitu mau mengurus surat-surat, yang ada di pikiran kita pasti yang pertama : birokrasi, bertele-tele, lama. Dan yang kedua : pake duit!
Awalnya Bun juga mikir gitu dan sempat mau minta tolong satpam perumahan aja. Tapi akhirnya berubah pikiran dan pengen ngurus sendiri aja.

Jadilah akhirnya Bun meluangkan waktu di hari sabtu, start jam 8. Jangan lupa, semuanya diawali dengan niat yang baik ya, Bismillah, jangan langsung sebel duluan dan berpikir bakal dipersulit dll.. Semua yang sebel-sebel itu kamu denger dari pengalaman orang, jangan sebel dulu sebelum mencoba sendiri.

  1. Pertama, kita butuh surat pengantar dari RT. Dari tetangga tau kalo rumah RT di kampung belakang. Ok, meluncuuur… Ketemu Pak RT, ngobrol-ngobrol dikit,, ngisi formulir.. dan jangan lupa masukin duit ke kotak amal sumbangan,, 5000 rupiah
  2. Abis itu menuju ke rumah RW, minta tanda tangan Pak RW, kotak amal sumbangan lagi, 5000 juga
  3. Setelah RW ke rumah Pak Dukuh,, digedor-gedor ga ada yang bukain,, ternyata Pak Dukuhnya lagi nyuci :D Akhirnya pintu dibuka dan terciumlah harum semerbak Pak Dukuh lengkap dengan batiknya,, ngisi formulir lagi, dan dapet tanda tangan,, kali ini nyumbang 1000 aja deh :D
  4. Setelah semuanya lengkap, menuju Kantor Kelurahan. Mungkin karena hari sabtu, jadinya sepi, hanya ada satu orang yang ngantri (asyiiiik,,,^^). Masukkan surat di keranjang, surat di proses, ambil pengantar ke Camat,, bayar 5000 lagi
  5. Terakhir, Kantor Camat Depok yang baru,, yang deket perempatan Gejayan itu lho,,, lumayan rame,,, masukin berkas, bayar 2000 rupiah saja, dan disuruh ngambil KIPEM sesuai tanggal yang tertera
  6. sekitar 2 sampai 3 hari kemudian, tinggal ambil KIPEMnya. Jadi deeeeh,,,silakan dinikmati :D

Ohya, jangan lupa siapin fotokopi KTP dan foto (hitam putih), lupa tepatnya berapa, tapi siapin aja 3,,kalo ga salah fotokopi KTP diminta pas di dukuh, dan foto pas di kecamatan

Total Jendral :
5000 + 5000 + 1000 + 5000 + 2000 = 18000

Alhamdulillah, dengan hati yang bersih, niat yang tulus pengen ngurus sendiri, makan waktu 2 jam saja dengan modal 18rb (mestinya sih cuma 7rb *5rb di kelurahan sama 2rb di camat*), dan bisa kenal sama Pak RT dll…, akhirnya KIPEM Bunda jadi juga.


Cukup Bunda saja….

Agustus 17, 2009

D
De
Dhe
Dewi
Dewin
Dewinda
Ayuk
Bos
Bostin
Wien
Winda
Whiendha
Wiwin
Wiwit
Wienz
Wienzy
Tiwi
Mami

sudah
..
..
cukup
..
..

Saya lelah terlalu banyak nama kecil untuk saya,,

Sekarang,,

cukup “Bunda” saja ya ^o^


.:bunda:.

Mei 19, 2009

Menurut Anda, diantara beberapa profesi berikut, manakah yang paling butuh persiapan?
Pengacara.
Dokter.
Ilmuwan.
Politikus.
Pengusaha.


Ibu.

Ibu??? yap Ibu!

Bagi saya, profesi yang paling berat dan butuh persiapan matang adalah seorang Ibu. Seorang wanita, dipersiapkan sedari kecil, dan akan terus ber’sekolah’ seumur hidupnya untuk menjadi seorang Ibu. Semua yang ia lihat, ia pelajari, akan ia berikan pada anak-anaknya kelak. Ia akan menjadi karyawan sukarela seumur hidup.

Dulu saya selalu bertanya pada diri sendiri, kenapa saya begitu antusias untuk bisa menguasai banyak hal. Berenang, menjahit, menyulam, bikin kue, les bahasa ini dan itu, dapat mengendarai sepeda-motor-mobil, bahkan instalasi listrik, dll. Atau kenapa saya begitu antusias memperbanyak pengalaman, rafting, caving, naik-turun gunung, pergi ke tempat baru(dengan atau tanpa teman), dan tidak pernah berhenti memiliki impian-impian.

Mengapa?? Saya selalu bertanya. Apakah kelak saya akan punya profesi yang butuh semua kemampuan ini?? Karena saya termasuk orang yang percaya bahwa ilmu atau pengalaman itu tidak akan pernah sia-sia, entah sekarang atau nanti, pasti akan ada manfaatnya. Dan akhir-akhir ini tiba-tiba terpikir, ya, inilah maknanya.

Maka itu, menurut saya, menjadi seorang perempuan, haruslah menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

Bagaimana akan melarang anak kebut-kebutan, padahal Ibunya ga bisa naik motor, dan ga tau asyiknya mengendarai kendaraan dalam kecepatan tinggi??
Bagaimana melarang anak naik gunung, padahal Ibunya selangkah pun tidak pernah menginjakkan kakinya di gunung manapun? Atau minimal Ibu tau dengan mencari, membaca dan bertanya.
Bagaimana mengarahkan anak untuk tidak memakai narkoba, jika sang Ibu sendiri tidak pernah aktif mencari tau apa bahayanya narkoba.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, akan ada pendekatan dan ilmunya, tentunya sesuai dengan taraf ilmu dan dedikasi Si orang tua pula. Menjadi orang tua, kita akan menjadi tim penilai. Menganalisa kira-kira anak kita akan mampu ikut kegiatan ini atau tidak, baikkah berteman dengan orang ini atau tidak. Memberi penilaian yang objektif. Dan apapun hasil penilaian itu, agar jangan sampai merugikan Sang Anak sendiri.

Seorang Ibu harus canggih, bisa pake google, atau rajin baca koranlah minimal. Seorang Ibu harus pintar. Jika bisa memiliki Ibu yang bisa mencapai doktor, kenapa tidak mungkin anaknya akan terpacu juga.

Dan menurut saya, orang tua haruslah kaya, atau setidaknya membiarkan uang bekerja untuk mereka (bukan mereka menjadi budak uang), agar dapat membiayai kehidupan, termasuk didalamnya pendidikan anak setinggi mungkin. Tentu, bukan tidak mungkin agar dapat membaktikan uangnya dalam kegiatan sosial. Berbagi dengan sesama.

Kenapa dari tadi saya tidak menyebut-nyebut ‘profesi’ istri?
Karena kita wanita, adalah Ibu bagi siapapun, bukan hanya anak-anak kandung kita. Kita ikut bertanggung jawab untuk memberi pendidikan dan contoh teladan yang baik bagi setiap orang. Sedangkan istri, tentu kita tidak bisa menjadi ‘istri bagi semua orang’ kan? :)

Menjadi Ibu, tidak akan pernah mudah. Ia akan menjadi guru dan teman selama 24 jam non stop. Sekali kita lengah dan salah mengarahkan, anak-anak akan jatuh terperosok.
Menjadi Ibu, adalah tanggung jawab seumur hidup. Tidak akan ada kata “saya lelah menjadi Ibu, mengurusi ini dan itu, saya mau libur dulu”.
Menjadi Ibu, adalah salah satu bagian dari madrasah seumur hidup, yaitu kehidupan itu sendiri. Profesi yang mulia ini janganlah dijadikan profesi sampingan, dimana porsinya sebagian besar digantikan oleh baby sitter atau pembantu.
dan satu lagi, menjadi Ibu, adalah karunia terbesar yang dianugrahkan Allah kepada seluruh perempuan di muka bumi ini, maka hargailah itu.


Are you a smartworker??

Maret 13, 2009

Artikel ini saya temukan di majalah Chic edisi tanggal 28Feb-13Mar 2007.
Isinya bagus, setidaknya untuk saya :) Makanya saya mau share disini.

Hardworker
ciri-cirinya :
- menyelesaikan pekerjaan dengan waktu lebih dari 45 jam dalam seminggu
- mengerjakan tugas satu per satu
- mendahulukan tugas yang lebih mudah atau yang dianggap penting
- kurang memanfaatkan teknologi dalam bekerja
- tidak efisien dalam manajemen waktu

Smartworker
ciri-cirinya :
- membutuhkan waktu kurang dari 40 jam
- mengerjakan tugas secara multitasking
- dapat membedakan mana tugas yang urgent dan important
- sangat memanfaatkan teknologi
- sangat efisien dalam menggunakan waktu

Which one are you??

Lalu, strategi apa saja untuk menjadi seorang smartworker??

    Fokus! Kurangi hal-hal yang mengganggu perhatian.
    Contohnya jauhkan majalah, tutup plurk dan facebook :) , pasang icon busy di status chat Anda.
    Hindari menunda pekerjaan, dan lakukan secara multitasking.
    Yak, mungkin terdengar aneh, tapi mengerjakan tugas secara bersama-sama justru akan membuat pekerjaan itu lebih cepat selesai.
    Gunakan teknologi secara bijak. Pakai mesin pencari untuk mempermudah pekerjaan. Gunakan Internet seperlunya untuk mempercepat selesainya tugas-tugas.

Tambahan:

    Buat target hari ini. Buat perencanaan/agenda apa-apa saja yang ingin Anda kerjakan hari ini.
    Kondisikan waktu Anda. Jika punya jam kerja 8 jam. Pastikan 1 jam untuk browsing(plurk/facebook), 1 jam istirahat, dan sisannya untuk bekerja. Selain slot waktu yang telah ditetapkan, hindari melakukan hal yang bukan dalam slot waktu tersebut.

Perlu diingat, semakin banyak waktu untuk mengerjakan satu tugas, itu berarti Anda semakin tidak efisien dalam manajemen waktu Anda. Cobalah mengurangi jam kerja dengan bekerja lebih efisien dan menyusun strategi yang matang.

Hmm… patut dicoba nih ^-^


Priceless

Maret 12, 2009

Sejak setahun yang lalu mulai jarang dapet kiriman bulanan dari orang tua, dan sejak saya bekerja, saya menjelma menjadi orang yang irit banget. Irit yang terkadang menjurus ke arah pelit.

Duh!

Dulu, saya ingat sekali saya bisa beli tas seharga 500rb kayak beli majalah. Ato pake ransel, ke bandara, beli tiket pesawat, trus nyampe deh Jakarta..
*Tuhaaaan, masa-masa jahiliyah itu*

Sekarang??
Saya ga mau nonton bioskop kalo ga dibayarin.
Saya sedapat mungkin tidak lagi membeli hal-hal yang ternyata ga penting-penting banget.
Saya sudah amat sangat mengurangi jalan-jalan keluar kota *hemat ongkos booow*
Kalopun pergi, selalu cari tiket paliiiing murah, bila perlu naik ekonomi.
Servis motor dari sebulan sekali jadi 3 bulan sekali
Minta kirimin pulsa hp sama ortu tiap bulan (haha..)
Dah jaraaaaaaaaaaaaaang banget beli buku T_T
Spa?? kayak pernah denger..
dll…

Baru-baru ini saya ditemani seorang teman saya membeli jaket+baju seharga 75 ribu, dan saya begitu menyesal. Sepanjang jalan pulang tak henti-hentinya saya menyesali kenapa saya ga nawar lebih murah, kenapa saya terlalu menginginkan barang itu.

Sampai dirumah, saya coba baju-baju yang barusan saya beli. Saat melihat cermin, saya berhenti sejenak, berpikir, kenapa saya jadi orang ga ikhlas banget… Subhanallah, walaupun murah, they looks good on me!!!

Tiba-tiba jadi teringat iklan Mastercard..(iya kan, iklan mastercard kan?)
Beli jaket dan baju, 75 ribu…
Tapi kegembiraan mendapat baju-baju bagus dengan harga murah, … priceless… ^^

Beberapa waktu lagi saya juga merencanakan akan pulang ke Palembang. Naik pesawat -tentu- adalah opsi terakhir. Rencananya saya akan estafet naik kereta api-bis-kapal-angkot-kereta api lagi.. Lumayan bisa hemat sampai 100rb-an.. Dibanding naik pesawat bisa sampai 500rb lebih dari Jogja, atau naik bis 350rb selama 32 jam..

Kemarin-kemarin saya akan berpikir, “ah, ngapain pulang, ongkosnya mahal, dijalan aja 1,5 hari”
Tapi sekarang saya mau bilang, “Ketemu keluarga yang sudah hampir 3 tahun ga ketemu (dan puas-puasin makan pempek yang banyaaaak dan enaaaak),… priceless..” :)

Spending thousands rupiahs every month for house electricity etc,
but find a heaven when I come back to my small house every day … priceless…;)


Fenomena Plurk

Maret 11, 2009

Morning, plurker!
*joget pisang*
Yaah, karmaku turun… :(

Beberapa istilah di atas mungkin biasaaaa banget kita dapat dari plurk.

Beberapa waktu terakhir ini demam plurk sepertinya sedang merajalela.
Hampir sama seperti facebook, bagi mereka yang keranjingan plurk, jendela/tab yang hampir pasti tidak pernah di close adalah halaman web plurk (dan facebook).

Sebenernya kenapa sih?kenapa sih?kenapa sih?

Setelah saya telaah lebih lanjut,
ternyata plurk dapat mengakomodasi beberapa kebutuhan paling mendasar dari manusia.

Apakah itu?
Kebutuhan untuk berbicara, ngobrol. Dalam arti lain adalah kebutuhan untuk bersosialisasi. Kita ini pada dasarnya senang berkomunikasi, mengeluarkan uneg-uneg kita pada orang lain. Atau sekedar mengeluarkan apa yang terlintas dalam pikiran.

Hal ini berkaitan dengan kebutuhan kedua, yaitu kebutuhan untuk ditanggapi, diperhatikan. Respon di plurk datang jauh lebih cepat ketimbang di blog. Terkadang ini menimbulkan ‘penyakit’ baru. Sejak plurk memberi fasilitas sound (dan tidak kita matikan), terkadang bunyi *ting* tanda ada update atau response baru terdengar begitu menggoda. Apapun pekerjaan yang dilakukan, diusahakan singgah sejenak melihat halaman plurk. Bahkan tanpa bunyi itu pun, tetap saja sebentar-sebentar ngecek plurk.

ckckckc… pantas saja di beberapa negara Facebook diblok. Saya belum dengar untuk plurk.

Semakin kesini sepertinya manusia semakin keranjingan untuk ‘stay connected‘. Dari ketemu langsung, telpon, sms, sampai Internet. Bukankah ini sebuah fenomena? Dimana bumi rasa-rasanya tidak lagi sebesar dulu… Impressive!!!


Facebook Quizes

Desember 24, 2008
Am I angel?

Am I angel?

Iseng-iseng ga ada kerjaan, ikutan kuis di facebook..
: Tujuan kuis/ keterangan
.: Result
:: Komentar saya

  • What Harry Potter character are you?

: mengetahui tokoh dalam film Harry Potter yang karakternya paling mirip saya
.:Hermione Granger
::Ahahaha, dah cantik, pinter pula,, saya banget!!!:D *joget pisang*

Mau tahu yang lain??


Wanita(2)

Oktober 27, 2008

Dia berkata lagi,
“Anggaplah kamu adalah cinta, dan cinta itu tak pernah salah”.
“Perempuan adalah cinta, lahir, hidup dan mati untuk cinta”.
“Namun engkau, mencintai untuk ditinggalkan. Angkuh, butuh dimengerti, tapi tak mau mengakui. Ingin dipilih dan juga ingin memilih”

Tapi aku tak setuju,

“Karna cinta adalah ilusi. Ia adalah bintang. Telah mati. Hanya tinggal cahaya, yang perlu berjuta tahun untuk sampai ke bumi”.


Wanita

Oktober 27, 2008

Katanya,
“Wanita adalah racun dunia”.
“Oh, tidak-tidak”, ralatnya. “Wanita seperti rokok, madu awalnya, racun setelahnya”.
“Ia gemar menyakiti, tebar pesona sana-sini, terus mencari, memilih dan meninggalkan berjuta perih pada banyak hati.”
“Ia penipu, tersenyum palsu, dalam hati tak begitu”.

Aku membela, “andai diri bisa dibagi”.

“Tapi tak ada yang seperti kamu”, katanya.

Dan aku semakin terluka.


Budaya dari Film Korea

Oktober 27, 2008

Saya baru saja nonton serial Korea, yang pernah juga diputar di Indosiar, judulnya 18 vs 29. Ceritanya mengingatkan saya pada serial Korea lain yang berjudul Fullhouse. Tapi disini yang ingin saya tulis bukan mengenai jalan cerita film-film tersebut, melainkan kebiasaan atau budaya yang ada di dalam film tersebut.

Satu hal yang paling saya perhatikan adalah budaya menyikat gigi sebelum tidur. Bukan sekali atau dua kali, tapi ada banyak adegan menyikat gigi. Sepele mungkin, bahkan terlihat  biasa saking seringnya. Tapi yang luar biasa adalah efeknya. Mengajarkan kebiasaan yang sangat baik kepada penonton.
Selain itu ada budaya yang sangat saya sukai, yaitu walau di film tersebut tokoh utamanya adalah artis, yang notabene kaya raya, tetap saja istri dan suami yang mengerjakan urusan rumah tangga. Pagi-pagi makanan sudah terhidang. Mencuci dan membersihkan rumah, dilakukan istri atau suami.
Terlepas dari biaya pembantu di Korea yang -mungkin- mahal, bandingkan dengan sinetron Indonesia, kaya dikit langsung pake pembantu, perintah sana perintah sini. Belum pembantunya jahat, atau majikannya yang kejam.

Satu lagi film yang saya tonton adalah Beautiful. Masih dari Korea juga, tapi berupa cerita lepas. Menceritakan tentang seorang wanita cantik, dan bagaimana kecantikannya tersebut pada akhirnya malah menjadi bumerang baginya. Selesai menonton cerita tesebut saya tak henti-hentinya bersyukur tidak terlahir cantik rupawan seperti artis-artis ibukota.

Pesan moral dan budaya yang ditampilkan film-film tersebut ditampilkan dengan sederhana, tetapi terasa sangat mengena.

Butuh komitmen yang kuat, butuh otak yang tidak melulu berpikir tentang rating dan keuntungan, butuh niat yang luar biasa untuk membuat film yang dapat memberi pelajaran -bukan sekedar hiburan.

Harus optimis bahwa sineas muda Indonesia akan mampu menghasilkan film-film yang luar biasa!