Are you a smartworker??

Maret 13, 2009

Artikel ini saya temukan di majalah Chic edisi tanggal 28Feb-13Mar 2007.
Isinya bagus, setidaknya untuk saya :) Makanya saya mau share disini.

Hardworker
ciri-cirinya :
- menyelesaikan pekerjaan dengan waktu lebih dari 45 jam dalam seminggu
- mengerjakan tugas satu per satu
- mendahulukan tugas yang lebih mudah atau yang dianggap penting
- kurang memanfaatkan teknologi dalam bekerja
- tidak efisien dalam manajemen waktu

Smartworker
ciri-cirinya :
- membutuhkan waktu kurang dari 40 jam
- mengerjakan tugas secara multitasking
- dapat membedakan mana tugas yang urgent dan important
- sangat memanfaatkan teknologi
- sangat efisien dalam menggunakan waktu

Which one are you??

Lalu, strategi apa saja untuk menjadi seorang smartworker??

    Fokus! Kurangi hal-hal yang mengganggu perhatian.
    Contohnya jauhkan majalah, tutup plurk dan facebook :) , pasang icon busy di status chat Anda.
    Hindari menunda pekerjaan, dan lakukan secara multitasking.
    Yak, mungkin terdengar aneh, tapi mengerjakan tugas secara bersama-sama justru akan membuat pekerjaan itu lebih cepat selesai.
    Gunakan teknologi secara bijak. Pakai mesin pencari untuk mempermudah pekerjaan. Gunakan Internet seperlunya untuk mempercepat selesainya tugas-tugas.

Tambahan:

    Buat target hari ini. Buat perencanaan/agenda apa-apa saja yang ingin Anda kerjakan hari ini.
    Kondisikan waktu Anda. Jika punya jam kerja 8 jam. Pastikan 1 jam untuk browsing(plurk/facebook), 1 jam istirahat, dan sisannya untuk bekerja. Selain slot waktu yang telah ditetapkan, hindari melakukan hal yang bukan dalam slot waktu tersebut.

Perlu diingat, semakin banyak waktu untuk mengerjakan satu tugas, itu berarti Anda semakin tidak efisien dalam manajemen waktu Anda. Cobalah mengurangi jam kerja dengan bekerja lebih efisien dan menyusun strategi yang matang.

Hmm… patut dicoba nih ^-^


Priceless

Maret 12, 2009

Sejak setahun yang lalu mulai jarang dapet kiriman bulanan dari orang tua, dan sejak saya bekerja, saya menjelma menjadi orang yang irit banget. Irit yang terkadang menjurus ke arah pelit.

Duh!

Dulu, saya ingat sekali saya bisa beli tas seharga 500rb kayak beli majalah. Ato pake ransel, ke bandara, beli tiket pesawat, trus nyampe deh Jakarta..
*Tuhaaaan, masa-masa jahiliyah itu*

Sekarang??
Saya ga mau nonton bioskop kalo ga dibayarin.
Saya sedapat mungkin tidak lagi membeli hal-hal yang ternyata ga penting-penting banget.
Saya sudah amat sangat mengurangi jalan-jalan keluar kota *hemat ongkos booow*
Kalopun pergi, selalu cari tiket paliiiing murah, bila perlu naik ekonomi.
Servis motor dari sebulan sekali jadi 3 bulan sekali
Minta kirimin pulsa hp sama ortu tiap bulan (haha..)
Dah jaraaaaaaaaaaaaaang banget beli buku T_T
Spa?? kayak pernah denger..
dll…

Baru-baru ini saya ditemani seorang teman saya membeli jaket+baju seharga 75 ribu, dan saya begitu menyesal. Sepanjang jalan pulang tak henti-hentinya saya menyesali kenapa saya ga nawar lebih murah, kenapa saya terlalu menginginkan barang itu.

Sampai dirumah, saya coba baju-baju yang barusan saya beli. Saat melihat cermin, saya berhenti sejenak, berpikir, kenapa saya jadi orang ga ikhlas banget… Subhanallah, walaupun murah, they looks good on me!!!

Tiba-tiba jadi teringat iklan Mastercard..(iya kan, iklan mastercard kan?)
Beli jaket dan baju, 75 ribu…
Tapi kegembiraan mendapat baju-baju bagus dengan harga murah, … priceless… ^^

Beberapa waktu lagi saya juga merencanakan akan pulang ke Palembang. Naik pesawat -tentu- adalah opsi terakhir. Rencananya saya akan estafet naik kereta api-bis-kapal-angkot-kereta api lagi.. Lumayan bisa hemat sampai 100rb-an.. Dibanding naik pesawat bisa sampai 500rb lebih dari Jogja, atau naik bis 350rb selama 32 jam..

Kemarin-kemarin saya akan berpikir, “ah, ngapain pulang, ongkosnya mahal, dijalan aja 1,5 hari”
Tapi sekarang saya mau bilang, “Ketemu keluarga yang sudah hampir 3 tahun ga ketemu (dan puas-puasin makan pempek yang banyaaaak dan enaaaak),… priceless..” :)

Spending thousands rupiahs every month for house electricity etc,
but find a heaven when I come back to my small house every day … priceless…;)


Fenomena Plurk

Maret 11, 2009

Morning, plurker!
*joget pisang*
Yaah, karmaku turun… :(

Beberapa istilah di atas mungkin biasaaaa banget kita dapat dari plurk.

Beberapa waktu terakhir ini demam plurk sepertinya sedang merajalela.
Hampir sama seperti facebook, bagi mereka yang keranjingan plurk, jendela/tab yang hampir pasti tidak pernah di close adalah halaman web plurk (dan facebook).

Sebenernya kenapa sih?kenapa sih?kenapa sih?

Setelah saya telaah lebih lanjut,
ternyata plurk dapat mengakomodasi beberapa kebutuhan paling mendasar dari manusia.

Apakah itu?
Kebutuhan untuk berbicara, ngobrol. Dalam arti lain adalah kebutuhan untuk bersosialisasi. Kita ini pada dasarnya senang berkomunikasi, mengeluarkan uneg-uneg kita pada orang lain. Atau sekedar mengeluarkan apa yang terlintas dalam pikiran.

Hal ini berkaitan dengan kebutuhan kedua, yaitu kebutuhan untuk ditanggapi, diperhatikan. Respon di plurk datang jauh lebih cepat ketimbang di blog. Terkadang ini menimbulkan ‘penyakit’ baru. Sejak plurk memberi fasilitas sound (dan tidak kita matikan), terkadang bunyi *ting* tanda ada update atau response baru terdengar begitu menggoda. Apapun pekerjaan yang dilakukan, diusahakan singgah sejenak melihat halaman plurk. Bahkan tanpa bunyi itu pun, tetap saja sebentar-sebentar ngecek plurk.

ckckckc… pantas saja di beberapa negara Facebook diblok. Saya belum dengar untuk plurk.

Semakin kesini sepertinya manusia semakin keranjingan untuk ‘stay connected‘. Dari ketemu langsung, telpon, sms, sampai Internet. Bukankah ini sebuah fenomena? Dimana bumi rasa-rasanya tidak lagi sebesar dulu… Impressive!!!